Monday, May 1, 2017

Tentang Bayi : Selamat Datang Langit Biru

25 April 2017

Hari itu kami dijadwalkan kontrol ke dokter kandungan. Akan tetapi setelah sholat subuh saya pergi ke kamar mandi dan menemukan bercak darah di celana dalam saya. Bergegas kami pergi berangkat ke rumah sakit. Mengingat salah satu wanti wanti dokter kandungan saya adalah jika ada flek segera ke UGD.

Di UGD dokter kandungan saya menghampiri dan menginfokan kalau saya sebaiknya menjalani rawat inap untuk obeservasi. Sekalian mendapatkan suntikan pematang paru kalau kalau bayi ini harus dilahirkan. Kehamilan saya ini memang punya riwayat oligohhydromnios atau air ketuban sedikit serta placental calcification atau pengapuran dini plasenta. Sekarang usia kandungan saya 37 minggu. Masih kurang satu minggu dari target minggu lahir yaitu 38 minggu. 


Saya menghabiskan hari dengan menjalani observasi. Belum mandi. Tapi untung sudah sikat gigi. Detak jantung janin dipantau. Tekanan darah saya dipantau. Tes urin. Tes darah. Semua tes menunjukkan hasil yang bagus, hanya saja leukosit atau sel darah putih saya tinggi. Ditakutkan ada infeksi.

Pada sore hari akhirnya saya menjalani USG. Dari hasilnya terlihat bahwa air ketuban saya sudah hampir habis dan setengah plasenta sudah mengapur. Gagal plasenta yang sangat membahayakan bagi janin dapat terjadi kapan saja. Dari hasil pemeriksaan dokter memutuskan bahwa risiko menunggu janin hingga usia 38 minggu jauh lebih besar daripada risiko bayi belum begitu siap lahir pada 37 minggu. Diputuskan bayi akan dilahirkan sehingga saya akan diinduksi malam itu juga.

Dokter dan perawat menjelaskan bahwa akan ada dua tahap induksi. Pertama induksi untuk melunakkan serviks atau jalan lahir dan yang kedua induksi untuk merangsang kontraksi.

Jam 19.00 tahap induksi yang pertama dimulai. Saya dipindahkan ke ruang bersalin yang untungnya kosong malam itu.

Setiap jam perawat datang untuk mengecek detak jantung bayi dan perkembangan kontraksi. Sampai seperempat botol habis tidak ada perubahan berarti pada kontraksi. Perawat menyarankan saya tidur demi menyiapkan tenaga untuk esok hari.

26 April 2017
Pagi hari cairan induksi masih mengalir. Saya masih tidak juga merasakan kontraksi. Perawat melakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui perkembangan bukaan jalan lahir. Masih bukaan satu. Mulut rahim masih tebal dan letaknya masih di atas. Perjalanan masih jauh.

Pukul 11.00 ketika cairan habis, dokter memberikan perintah untuk beristirahat selama 4 jam sebelum melanjutkan tahap induksi yang kedua. Induksi tahap kedua mulai dijalankan pada pukul 16.00.

Selama induksi berlangsung lagi lagi tidak ada penambahan kontraksi. Hingga pukul 23.00 dan cairan habis saya hanya merasa sangat mengantuk. Boro boro mules. Tegang di sekitar perut pun tak ada. Di dalam janin malah semakin aktif bergerak. Mungkin karena ketambahan hormon 😅

Saya minta ijin pada suster untuk tidur. Karena ngantuk sudah tak tertahankan lagi. Kata orang yang namanya induksi itu sangat sakit. Karena kontraksi yang dihasilkan berkali lipat dari kontraksi normal. Tapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi saya. Dengan tubuh penuh cairan induksi saya malah tidur nyenyak sampai pagi.

27 April 2017
Pukul 06.00 saya pindah ke kamar perawatan biasa. Jam 07.00 dokter masuk ke kamar dan menginformasikan bahwa induksi saya gagal dan saya disarankan (well sebenarnya sedikit diputuskan secara sepihak sih 😅) untuk menjalani c-section siang itu juga. Karena dokter tidak mau ambil risiko lebih lanjut.

Selanjutnya saya menghabiskan pagi terakhir sebagai ibu hamil dengan membaca berbagai artikel tentang C-Section yang selama ini selalu saya lewatkan karena sangat yakin bisa melahirkan secara normal 😅

Pukul 11.00 saya didorong dengan kursi roda ke kamar operasi. Empat puluh lima menit kemudian tangisan bayi memecah ruangan.

Segala puji bagi Allah anak pertama kami, telah lahir ke dunia dengan selamat.

Selamat datang langit biru kesayangan ayah ibu 😊

No comments:

Post a Comment