Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2016

Tentang Bayi : Dr. Joice, Suster Bingung, Suami yang Terlupakan, dan Ramuan Ajaib

Saya memutuskan untuk periksa kehamilan di Rumah Sakit Advent Bandung. Kenapa? As simple as karena saya pernah dirawat di sana dan makanannya enak. HAHAHAHAHA! #IbuAmatir.
Bukan deng, saya memang agak malas ke rumah sakit khusus bersalin karena menurut saya penuh. Yaiyalah, kalau sepi kan malah ngeri ya. Apalagi sampai harus antri berjam jam demi periksa dengan dokter populer. Nggak deh terimakasih. Menurut saya karena kehamilan ini proses natural jadi ya asal kondisi kita normal-normal saja, dokter kandungan mana saja bisa ngasih tahu apa yang harus dilakukan. Yah tidak menutup kemungkinan ada dokter kandungan yang ngawur atau kejam sih, tapi intinya saya tidak mau menghabiskan waktu untuk kebanyakan baca review. Tembak di tempat saja, pikir nanti.   
Saya pilih Dr. Joice dengan alasan praktis : beliau praktek hari Senin-Kamis dari jam 8-15. Jadi perkiraan saya karena beliau dokter tetap dengan waktu praktek panjang, antriannya tidak akan menggila. Tidak banyak review tentang Dr. Jo…

Tentang Bayi : Made In Germany Built Up in Indonesia

Bulan Juli kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia, bulan Agustus saya terlambat datang bulan. Tapi ya, karena siklus bulanan saya memang cenderung lama dan kurang teratur saya cuek saja. Mungkin kecapekan saja pikir saya. Bulan Agustus itu memang saya kerja sampingan jadi pengganti orang yang liburan summer (urlaubsvetretung). Hampir setiap hari saya kerja 4-6 jam. Cari uang buat jalan-jalan sebelum pulang sekaligus tabungan buat di Indonesia. 
Akhir bulan Agustus saya iseng-iseng testpack, hasilnya negatif. Jadi saya lanjutkan saja kesibukan saya tanpa banyak pikiran :P
Bulan September, hampir sebulan penuh saya sibuk menjamu tamu. Teman saya datang. Mertua datang. Hampir tiga minggu penuh kami jalan-jalan keliling keliling. Berlin, Roma, Napoli, Budapest, dan Vienna. Angkat angkat koper kesana kemari. Lari lari mengejar bis, kereta, trem, metro. Malah waktu mengunjungi Pompeii kami sempat memutari kesembilan sektor kotanya tanpa ragu-ragu. 
Sementara itu si bulan belum nongol ju…

Aufwiedersehen Deutschland!

Bulan Juli 2016 kami mendapat kabar kalau beasiswa suami diputuskan untuk tidak diperpanjang (programnya sendiri memang cuma tiga tahun). Mengingat Phd suami belum rampung, ada dua opsi yang bisa kami ambil : tetap bertahan di Jerman sampai suami lulus atau pulang ke Indonesia dan suami meneruskan studinya jarak jauh. 
Kami berdua yang cukup absurd perkara masa depan akhirnya menetapkan pilihan hanya berdasarkan hitung hitungan finansial yang cukup sporadis. Bertahan di Jerman akan lebih berat daripada pulang ke Indonesia dengan suami bolak-balik setiap 2 atau 3 bulan ke Jerman untuk seminar, presentasi, dan sebagainya. Karena untuk bertahan tinggal di Jerman yang bisa kami lakukan paling kerja sambilan dan ngutang sambil hidup super irit. Sementara di Indonesia suami bisa kerja rada beneran, saya bisa proyekan, kami bisa numpang, mungkin sedikit ngutang, dan nggak perlu irit-irit amat :))
Banyak teman, baik orang Jerman maupun orang Indonesia, mempertanyakan keputusan kami untuk per…