Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2013

Kembalinya si Botak

Setelah 7 bulan di negeri orang. Tampilan suami saya jadi seperti ini :
Macam Beatles gagal, kalau nggak mau dibilang mirip kemoceng. Mana nggak mau sisiran pulak. Sigh!
Karena ke tukang cukur mahal (15 euro bisa buat makan 3 hari ), akhirnya diputuskan untuk cukur rambut sendiri. Saya bertugas sebagai pencukurnya.
Modalnya : Pisau cukur elektrik pinjaman.

Hanya dalam waktu 15 menit. Si Botak sudah kembali :D Hmmm...karena tukang cukurnya masih belum pengalaman. Jadinya tinggi potongan rambutnya agak nggak rata. Hehe!

Masakan Sporadis : Mie Potong Kuah Ayam

Dingin-dingin enaknya makan mie.
Sayangnya mie instan habis dan mau beli ke toko asiapun malas. Jauh. Tak ada rotan akarpun jadi.
Berbekal pengetahuan dari komik Master Cooking Boy. Mie pun dibuat sendiri. Bahannya : tepung + telur + garam + air. Takarannya? Suka suka! pakai feeling saja.
Campur bahan, uleni sampai pulen, kemudian pipihkan. Potong-potong memanjang.
Taraa. Begini tampilannya.

Biar lebih asyik, buat kuahnya :

Rebus ayam + bawang bombay (karena bawang putih belum beli. Hehe!) + bawang daun + jamur. Intinya sih apa saja yang ada di kulkas dan bisa dicemplungin. Tentu saja yang pantas cemplung ya. Jangan macam-macam apel jeruk dicemplungin, nanti jadi rujak :P Kasih garam+gula+merica. Dan .... pssstt tentu saja msg yang berhasil diselundupkan dari tanah air! Bhihik!
Aduk aduk. Sajikan!

Das Heft

Walaupun teknologinya sudah sangat maju, konon katanya orang Jerman nggak pede menulis tangan di kertas kosong. Buktinya buku tulisnya kotak kotak. Konon katanya (lagi), tulisan tangan dianggap seni di sini. Macam kaligrafi. Orang-orang, terutama yang sudah tua, terbiasa menulis perlahan, nyeni, dan rapi pakai huruf tegak bersambung. Menurut seorang teman yang pernah bersekolah di Jerman, mahasiswa Jerman sering kagum sama mahasiswa Indonesia yang bisa menulis lurus di kertas tanpa garis dan pakai huruf cetak. "Seperti diketik" kata mereka. Saya sendiri, yang kelupaan bawa buku dari Indonesia, terpaksa pakai buku kotak-kotak dan merasa aneh. Macam anak TK belajar matematika :))))

Tentang Mantel Tua

Waktu akan berangkat ke Jerman, saya diberi banyak barang-barang musim dingin turunan. Salah satunya mantel ini.
Mantel ini dulu punya salah satu Kakek suami dan setelahnya digunakan oleh ayah mertua.
Almarhum Kakek yang dulu punya mantel ini horang kayah. Bisa dibilang barang yang beliau punya tidak pernah jelek. Mantel yang diturunkan ke saya ini Made in West Germany, warnanya beige, lapisan luarnya dari bahan tahan air, punya lapisan dalam thermal dari bahan wool yang bisa dicopot, dan lapisan kulit sebagai ornamen. Dibeli tahun 1964, mantel ini sudah digunakan keliling dunia oleh Kakek dan kemudian oleh ayah mertua, sampai ayah mertua pensiun tahun 2004.
Saya gunakan mantel tua untuk berangkat ke Jerman. Karena para empunya terdahulu badannya kecil kecil, bagian tangannya agak kependekan buat saya.Walaupun begitu kehebatannya tidak bisa dipungkiri. Sampai di Jerman, mantel ini menjaga badan saya dari shock menyambut suhu 1oC. Bahkan ketika malam datang dan suhu turun sampai di baw…

Sekilas Stuttgart : Schlossplatz

Kesalahan kami adalah memutuskan untuk jalan-jalan tanggal 24 Desember. Lain dengan jalanan di Indonesia yang justru ramai saat hari libur, jalanan Stuttgart sepi pake banget. Toko toko tutup, public transportation hanya sedikit yang beroperasi (baca: waktu tunggu antar kereta/bus jadi lebih lama) Itupun supirnya sudah nampak ingin segera sampai rumah :D
Di jalan hanya terlihat beberapa orang turis atau warga asing yang berjalan-jalan. Warga Jerman sendiri nampaknya memilih untuk tinggal di rumah, berkumpul dengan keluarga sambil menikmati hidangan natal atau berlibur ke luar negeri mencari matahari.
Tapi bagaimanapun sepinya, melihat pemandangan baru adalah hiburan murah (yang sebenarnya cukup mewah) untuk kami.  Di atas kubah ada rusa emas. Lambang Baden Wurttemberg. Kalau lagi ada di kubah begini keliatannya imut, padahal kalau di lambang tampang rusa ini galak.
Also herzliche willkommen in Stuttgart :D

Waldeck

Tempat tinggal kami di Stuttgart ada di daerah Waldeck. Masuk dalam wilayah Stuttgart sud atau Stuttgart selatan, Waldeck dan daerah sekitarnya dikelilingi hutan. Bahkan waktu siang, suasanya sepi macam kota Boyolali jam 12 malam.
Hutan di sini tidak seperti hutan Indonesia yang hijau basah. Hutannya cokelat dan kering. 
Orang Jerman katanya hobi hiking. Nggak peduli waktu dan kondisi cuaca. Sekilas saya perhatikan sampai malam memang masih banyak yang jalan jalan di hutan di depan rumah. Padahal gelap dan suhu 3 derajad celcius. 
Tapi kan kuntilanak, genduruwo dan nenek lampir nampaknya belum mau hijrah ke Eropa, jadi kayaknya buat mereka asyik asyik aja jalan di hutan malam – malam. Mungkin kalau ketemu Vampire mereka malah senang :D

Jadi Hobbit di Esslingen

Hari Minggu kami ke Esslingen Weihnachtsmarkt atau pasar natal di kota Esslingen.
Pasar malamnya penuh sekali. Katanya orang Jerman memang hobi sama perayaan.
Kami berjalan di kerumunan orang yang rata-rata tingginya 180 cm. Baru kali ini saya merasa seperti Hobbit. Secara kalau di Indonesia saya cukup tinggi.
Lihat kiri tidak bisa, kanan tidak bisa, depan apalagi, jadi kami hanya berjalan mengikuti arus. Terdoronglah kami ke dekat penjual Hanftaschen.Hanftaschen artinya tas tangan atau Handtaschen. Tapi di pasar malam Esslingen ini Hanftaschen berubah arti jadi roti gandum yang tengahnya dibolongin seperti kantong, diisi dengan potongan daging kalkun, irisan bawang bombay, dan disiram dengan keju cair. Menurut penjualnya model roti begitu kesukaan King Arthur. Ya saya si percaya percaya saja, secara saya nggak kenal King Arthur. Kios Hanftaschen ini nampaknya yang paling laku di pasar malam ini.

Goodbye Sunshine

“Goodbye sunshine” Ujar anak perempuan yang duduk di kursi depan ketika pesawat akan mendarat di Frankfurt.
Dari jendela pesawat terlihat rangkaian awan kelabu dan kabut yang menggantung di udara.
Meninggalkan negeri yang hangat dan penuh warna, sekarang saya berada di Jerman yang dingin dan kelabu