Skip to main content

Paradoks

Minggu kemarin saya mendengar cerita dari adik saya. Ibu-ibu yang bekerja sebagai pembantu di rumah Bude yang saya tinggali, bertanya harga flashdisk pada sepupu saya. Anaknya yang bersekolah di sekolah kejuruan dan sedang kerja praktek membutuhkan flashdisk. “45 ribu” kata sepupu saya. Dengan gaji yang baru diterimanya, ia memberi anaknya uang sebesar 50 ribu. Dengan pesan 45 ribu untuk flashdisk, 5 ribu untuk ongkos. Berangkatlah si anak ke toko. Tertegun dia karena harga flashdisk paling murah (2G), adalah 65 ribu. Uangnya kurang 20 ribu. Berceritalah si anak ke ibunya. Ibunya sudah tidak punya uang lebih, bahkan untuk “hanya” 20 ribu, karena semua gajinya sudah diperuntukkan untuk hal yang lain. “Sabar ya nak, sampai hari sabtu, nanti ibu pinjam uang”.

Saya jadi ingat di minggu yang sama, karena pekerjaan, saya bertemu seorang anggota perwakilan rakyat. Memiliki empat stasiun pengisian bahan bakar minyak, dengan lima rekening tabungan masing-masing menunjukkan saldo tidak kurang dari 2 milyar rupiah. Salah satu saldonya bahkan mencapai lebih dari 20 Milyar rupiah. Oh oh jangan salah, saya tidak menuduh beliau korupsi. Suka-suka dia lah mau punya uang berapa juga, dan darimana mendapatkan uangnya. “Nanti untuk cucu saya mbak”, kata beliau menjelaskan, ketika saya bertanya untuk apa membuat stasiun pengisian bahan bakar lagi. Umur sang cucu bahkan baru 5 bulan, tapi dia sudah akan punya stasiun pengisian bahan bakar. Semoga dia menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi nusa dan bangsa.

Meminjam istilah favorit teman saya. Paradoks bukan? Hehehe.

Takdir, nasib, atau apalah itu. Saya bersyukur karena hidup saya tidak terlalu ekstrim kiri maupun kanan. Semoga menjadi pengingat agar kita selalu bersyukur dan mawas diri teman-teman. Amin.

Comments