Skip to main content

Posts

Alternate Universe

In alternate universe you will still be here mom.
Cooing over your second grandson. The one that you've been waiting for so long.
Since day one I'm allowed to be a mom.

In alternate universe you will still be here mom.
Worrying about your grandson being trusted in the hands of his careless mom.
Giving unstopable advice on how I should handle this tiny baby.
That will be our source of everyday argument. Me being annoyed and you being persistent.

In alternate universe you will still be here mom.
Sending me Whatsapp every single minute. Wanting to know what's the baby doing. Demanding newest photo of him. Changing your profil picture everytime you get them.

In alternate universe you will still be here mom.
Bragging about your precious grandsons to everyone. How proud and thankful you are on being their grandma. Showering them with lot of gifts and hugs and kisses.

In alternate universe you will still be here mom.
Instead of writting about the alternate universe that everyone…
Recent posts

Tentang Bayi : Selamat Datang Langit Biru

25 April 2017

Hari itu kami dijadwalkan kontrol ke dokter kandungan. Akan tetapi setelah sholat subuh saya pergi ke kamar mandi dan menemukan bercak darah di celana dalam saya. Bergegas kami pergi berangkat ke rumah sakit. Mengingat salah satu wanti wanti dokter kandungan saya adalah jika ada flek segera ke UGD.

Di UGD dokter kandungan saya menghampiri dan menginfokan kalau saya sebaiknya menjalani rawat inap untuk obeservasi. Sekalian mendapatkan suntikan pematang paru kalau kalau bayi ini harus dilahirkan. Kehamilan saya ini memang punya riwayat oligohhydromnios atau air ketuban sedikit serta placental calcification atau pengapuran dini plasenta. Sekarang usia kandungan saya 37 minggu. Masih kurang satu minggu dari target minggu lahir yaitu 38 minggu. 


Saya menghabiskan hari dengan menjalani observasi. Belum mandi. Tapi untung sudah sikat gigi. Detak jantung janin dipantau. Tekanan darah saya dipantau. Tes urin. Tes darah. Semua tes menunjukkan hasil yang bagus, hanya saja leukosit ata…

Tentang Bayi : Olshop Dulu. Supaya Bahagia

Seperti sudah saya bilang di postingan sebelumnya, insyaallah sebentar lagi saya bakal punya bayi. Tapi sampai usia kandungan 34 minggu saya masih takut beli beli perlengkapan bayi. Dengan alasan yang sangat tidak rasional: saya takut geer 😅 Gimana kalau setelah beli ini itu saya nggak jadi punya bayi. Naudzubillahimindzalik sih 😔
Sampai akhirnya di suatu subuh, setelah sholat saya iseng membuka-buka buku Dzikir tulisan Pak Miftah Faridl. Salah seorang ulama terkemuka yang kebetulan juga dosen agama saya waktu kuliah.
Entah kenapa mata saya tertumbuk pada sepenggal tulisan di bagian "Dzikir setelah sholat" :  Allaahumma laa maani'a limaa a'thayta wa laa mu'thiya limaa mana'ta wa laa raada limaa qadhayta wa laa yan fa'u dzal-jaddi minkal jaddi artinya  Ya Allah tidak ada yang dapat menghalangi akan apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang mampu memberi akan apa yang Engkau halangi. Tidak ada yang bisa menolak apa-apa yang Engkau putuskan. Dan kekayaa…

Tentang Bayi : Prahara Air Ketuban, Spesialis Fetomaternal, dan Ibu Panikan

Saya tidak pernah menyadari kalau saya ini panikan. Perasaan saya, saya cenderung santai dalam menghadapi hidup. Satu-satunya sumber ke-lebai-an saya (yang saya akui) adalah kalau menyangkut traveling. Saya kurang santai perkara itinerary bahkan cenderung heboh kalau sudah menyangkut perkara jadwal keberangkatan. Apapunlah. Mau pesawat, kereta, bis, travel, endesbay endesbey. Perkara waktu berangkat ini yang sering jadi sumber pertengkaran saya dengan suami dan jadi sumber cekcok juga dengan rekan traveling. Tapi sungguh, diluar perkara traveling saya selalu menganggap diri saya cuek. Bahkan saat harus menghadapi ujianpun (ujian beneran ya bukan ujian kehidupan) saya jarang takut apalagi sampai panik.
Sampai saat hamil sekarang. Saya baru menyadari bahwa saya ini panikan minta ampun. Hahaha!
Ya gimana sih? ada manusia tumbuh dalam tubuh saya. Manusia yang kuat sih insyaallah, freshly descended from heaven gitu. Tapi tetap saja semua hal yang saya lakukan kemungkinan besar akan berdam…

Ketika Kehilangan Ibu

Ketika kehilangan ibu, kita kehilangan orang yang berani melawan gravitasi demi melihat kita berhenti menangis.
Ketika kehilangan ibu, kita kehilangan orang yang rela pergi sampai keujung dunia untuk mendapatkan hal yang membuat kita gembira.
Ketika kehilangan ibu, kita kehilangan orang yang menghujani kita dengan ribuan ciuman setelah sholat malam, agar tercapai apa yang kita cita-citakan.
Ketika kehilangan ibu, kita kehilangan wangi surga yang memancar dari tubuhnya, yang dalam pelukannya meyakinkan kita bahwa semua semua hal akan baik-baik saja.
Ketika kehilangan ibu, kita kehilangan orang yang hanya dengan senyumnya mengingatkan kita bahwa kita istimewa dan berharga.
Ketika kehilangan ibu, kita kehilangan orang yang restunya dapat melapangkan jalan kita dalam melewati semua tantangan dan kesulitan.
Ketika kehilangan ibu, kita kehilangan orang yang doanya mampu menembus tujuh lapisan langit dan mengetuk hati Yang Maha Kuasa. Bukan untuk mendapatkan harta dan permata tapi meminta k…

Orang Baik

Anak - anak saya kelak tidak akan pernah bertemu eyang utinya. Anak pertama saya masih berusia 6 bulan dalam kandungan, saat ibu saya pergi untuk selama-lamanya. 
Akan tetapi walaupun tidak akan pernah bertemu, saya harap mereka akan mewarisi sifat dan kepribadian ibu saya.
Ibu saya orang baik. Saya mengatakan ini bukan hanya karena semata-mata ia ibu saya yang telah bersusah payah melahirkan dan membesarkan saya, tapi karena ibu saya memang benar-benar orang baik.
Kalaupun penilaian saya subjektif, paling tidak hampir semua orang yang saya temui setelah kepergiannya mengatakan hal yang sama. Orang-orang yang masih berkaca-kaca saat berbicara tentangnya. Terkadang sampai tercekat tak bisa bicara.
Ibu saya bukan tokoh ternama, tapi nampaknya bagi kebanyakan orang yang mengenalnya jelas ia siapa siapa. Pada hari kepergiannya, ratusan orang datang untuk melayat. Dari yang saya kenal secara pribadi, hingga orang-orang yang tidak pernah saya tahu namanya. Ratusan orang tak hentinya datang…

Perginya Ibu

Ibu saya tutup usia pada tanggal 31 Januari 2017 pukul 07.30 pagi. Baru 56 tahun usianya.
Kanker usus kata dokter. Lebih ilmiahnya Adenocarsinoma stage 4 di kolon kanan yang telah  bermetastasis ke 15 titik jaringan limpa, suatu jaringan lain yang saya lupa namanya, dan appendiks. Itu yang saya baca di kesimpulan analisis patologi yang kertasnya saya temukan di tas berisi kumpulan dokumen-dokumen dari rumah sakit.
Maag akut. Begitu keluhan awalnya. Setelah dua kali kunjungan ke dokter spesialis penyakit dalam dan empat hari pemeriksaan menyeluruh organ pencernaan. Ditemukan tumor besar di perut kanan.
Operasi pengangkatan tumornya berjalan lancar. Mungkin terlalu lancar. Sel kanker yang ada di tubuhnya sudah terlalu menyebar. Tak bisa dibersihkan hanya dengan operasi. 
Ibu pergi selamanya hanya dua minggu setelah dirawat di rumah sakit. Tiga minggu setelah diagnosa penyakitnya.
Sadar penuh sampai saat-saat terakhirnya dan tidak pernah mengeluh sakit sedikitpun. Saya harap memang begi…